BAB
I
Pendahuluan
A. Latar
belakang
Dalam ilmu psikologi
sosial menjelaskan tentang hubungan personal atau biasa disebut hubungan
interpersonal, dimana saat seseorang berkomunikasi maka mereka tidak hanya
menyampaikan isi tetapi
juga menentukan kekuatan hubungan yang terjadi antar diri seseorang. Jadi makin
baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya;
makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya; sehingga
makin efektif komunikasi yang berlangsung diantara komunikan. Dalam salah satu
model di hubungan interpersonal, orang berhubungan dengan orang lain karena
mengharapkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya. Thibault dan Kelley,
dua orang pemuka dari teori ini menyimpulkan model pertukaran sosial sebagai berikut:
“Asumsi
dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara
sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan
tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya”.
Dalam makalah ini, akan membahas
lebih lengkap mengenai hubungan personal, seperti teori yang dipakai dalam
hubungan personal, dinamika pengungkapan diri dan intimasi, membahas sifat dari kekuasaan dan konflik
dalam hubungan, faktor-faktor yang berkontribusi pada kepuasan dan komitmen
pada hubungan. Dan memaparkan cara orang untuk menjaga hubungan yang baik.
B.
Rumusan masalah
1. Bagaimana
pengertian hubungan personal dan teori dalam hubungan personal?
2. Bagaimana
dinamika pengungkapan diri dan intimasi?
3. Bagaimana
sifat dari kekuasaan dan konflik dalam hubungan?
4. Apa
saja faktor-faktor yang berkontribusi pada kepuasan dan komitmen pada hubungan?
5. Bagaimana
cara orang dalam menjaga hubungan yang
baik?
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui hubungan personal dan teori dalam hubungan personal
2. Untuk
mengetahui dinamika pengungkapan diri dan intimasi
3. Untuk
mengetahui sifat dari kekuasaan dan konflik dalam hubungan
4. Untuk
mengetahui faktor-faktor yang berkontribusi pada kepuasan dan komitmen pada
kepuasan dan komitmen pada hubungan
5. Untuk
mengetahui cara seseorang menjaga hubungan yang baik.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
hubungan personal dan Teori Interdependensi
1.
Pengertian hubungan personal
Hubungan
personal atau hubungan interpersonal adalah komunikasi yang terjadi pada satu
individu dengan individu lain, dengan menentukan kadar atau kekuatan hubungan
yang terjadi diantara komunikan. Dari segi psikologi komunikasi, kita dapat
menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk
mengungkapkan dirinya; makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi
dirinya; sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung diantara komunikan.[1]
2.
Teori interdependensi
Peneliti Hubungan
sosial dalam Psikologi sosial,sering menggunakan Interdependence Theory. Pandangan ini sering menganalisis interaksi
antar partner, istilah dalam interaksi ini adalah manfaat dan biaya atau biasa
disebut yang diberikan atau diterima partner. Kita biasanya mengatur interaksi
untuk memaksimalkan manfaat dan meminimalkan biaya atau kerugian dipihak kita.
Tetapi untuk mendapatkan manfaat ini kita juga harus memberi manfaat kepada
orang lain. Interaksi sosial melibatkan pertukaran dan koordinasi hasil antara partner
yang saling bergantung.[2]
Teori
interdependensi merupakan salah satu teori dari teori pertukaran-pertukaran
sosial (social reinforcement- exchange theory) yang merupakan salah satu teori
yang berorientasi pada teori penguatan (reinforcement). Teori interdependensi
dikemukakan oleh thibout dan kelley. Dengan istilah interdependensi maka dalam
interaksi ini satu dengan yang lain saling bergantung dan saling tukar.[3]
Dalam teori ini,
orang yang berinteraksi akan selalu melihat dari segi penguatan, selalu dilihat
dari untung rugi. Kalau hadiah lebih besar dari pada biaya (cost), interaksi
akan menyenangkan demikian pula sebaliknya.[4]
a)
Manfaat dan Biaya
Manfaat atau perolehan/imbalan reward adalah segala sesuatu yang positif yang kita peroleh dari
interaksi, seperti perasaan dicintai atau mendapat bantuan finansial. Analisis
manfaat dari interaksi sosial yang cukup membantu kita adalah analisis yang
dikemukakan oleh Foa dan Foa yang mengidentifikasikan enam tipe perolehan
utama, yaitu cinta, uang, status, informasi, barang dan jasa. Ini dapat
diklasifikasikan menjadi dua dimensi. Dimensi partikularisme berkaitan dengan
sejauh mana nilai perolehan bergantung pada orang yang memberikannya. Nilai
cinta atau nilai pelukan dan kata-kata yang lembut akan bergantung pada siapa
yang memberikannya. Dimensi kedua kekonkritan adalah imbalan yang nyata yang
dapat kita lihat, cium, dan sentuh dan nonkonkrit atau simbolis seperti nasehat
atau persetujuan sosial.[5]
Biaya atau kerugian adalah konsekuensi dari
interaksi atau hubungan. Sebuah interaksi mungkin juga merugikan jika membuat
kita kehilangan kesempatan untuk melakukan aktifitas yang lebih menguntungkan.[6]
Faktor-faktor
yang berpengaruh pada hadiah dan biaya ada 2, yaitu:[7]
(1) Faktor
eksternal yang mempengaruhi kemampuan (ability, kesamaan (similary ), kedekatan
(proximity), dan pelengkap (complementary).
(2) Faktor
internal atau endogen merupakan faktor ynag timbul selama dan hasil dari proses
interaksi. Dalam keadaan optimal, faktor endogen memungkinkan hasil positif
yang maksimal untuk partisipan dalam interaksi.
b)
Mengevaluasi Hasil
Teori
interdependensi memperkirakan bahwa orang selalu meneliti manfaat dan biaya
dari interaksi atau hubungan tertentu. Disini akan fokus pada hasil keseluruhan
yang di peroleh dari suatu hubungan, apakah hubungan itu menguntungkan bagi
kita (manfaat lebih besar dari pada biaya) ataukah merugikan (biaya lebih besar
dari pada manfaat).[8]
Selain
menentukan apakah hubungan itu menguntungkan, kita juga menggunakan penilaian
komperatif,menilai bagaimana satu hubungan dengan hubungan lain. Ada dua
standar yang sangat penting. Standar pertama adalah comparison level (level perbandingan). Perbandingan ini
mencerminkan kualitas hasil yang menurut seseorang pantas untuk diterima. Dalam
level perbandingan kita merefleksikan pengalaman masalalu dalam suatu hubungan.
Standar kedua adalah comparison lever for
altrenatives (level perbandingan untuk alternatif) yakni menilai bagaimana
satu hubungan dibandingkan dengan hubungan lain yang saat ini kita jalani.[9]
c)
Mengoordinasikan hasil
Seberapa mudah
atau sulitkah dua orang mengoordinasikan hasil akan tergantung pada seberapa
banyak kesamaan minat dan tujuan mereka. Ketika partner menyukai banyak hal
yang serupa dan menyukai aktifitas yang sama, mereka akan relatif mudah
mengatasi problem koordinasi. Dalam kasus ini, mereka dikatakan memiliki “hasil
yang berkoresponden” karena hasilnya berhubungan satu sama lain. Ketika partner
memiliki preferensi dan nilai yang berbeda, mereka akan mendapatkan “hasil yang
tidak berkorespondensi” dan akibatnya cenderung terjadi konflik kepentingan dan
timbul problem koordinasi.[10]
d)
Pertukaran yang adil
Seseorang akan
merasa puas jika relasi sosial mereka cukup adil. Kita menggunakan berbagai
aturan untuk menentukan apakah manfaat dan kerugian dalam suatu hubungan itu
cukup berimbang atau tidak. Ambil contoh, dua bocah lelaki yang sedang berusaha
memutuskan cara membagi pizza. Mereka mungkin ingin “membaginya secara sama”
dengan menggunakan “kaidah kesamaan” yakni setiap orang mendapatkan proporsi
yang sama. Orang cenderung menggunakan prinsip ekualitas ini saat mereka
berinteraksi dengan kawannya ketimbang ketika berinteraksi dengan orang asing.
Anak lebih cenderung menggunakan prinsip ini dibadingkan dengan orang dewasa,
mungkin karena prinsip itu cukup sederhana.[11]
Prinsip untuk
pertukaran manfaat dalam suatu hubungan adalah prinsip mempertimbangkan
kebutuhan semua orang yang terlibat dalam hubungan itu. Pasangan yang sudah
menikah mengadopsi prinsip “kebutuhan relatif”, memandang prinsip ini sebagai
prinsip yang ideal untuk hubungan mereka, karena percaya bahwa, “manfaat harus
di berikan sesuai dengan kebutuhan, saat ada kebutuhan tanpa berlebihan.”[12]
Dalam Teori
ekuitas, dimana manfaat yang diterima seseorang harus sebanding dengan
kontribusinya, memiliki empat asumsi dasar:[13]
(1) Dalam
satu relasi atau kelompok, individu akan berusaha memaksimalkan perolehannya.
(2) Pasangan
dan kelompok dapat memaksimalkan manfaat kolektifnya dengan menggunakan aturan
atau norma tentang cara membagi manfaat secara adil untuk semua pihak.
(3) Ketika
individu merasa bahwa suatu hubungan tidak seimbang, mereka akan tertekan.
(4) Individu
yang merasakan adanya ketidak seimbangan dalam hubungan akan berusaha
memulihkannya.
Riset telah
mendukung beberapa prediksi dari teori ekuitas. Ketika hubungan terasa tak
imbang, kedua belah pihak akan merasa tertekan atau sedih. Tidak heran jika
orang yang dirugikan akan merasa jengkel. Namun, riset menunjukkan bahwa orang
yang terlalu banyak mengambil keuntungan juga akan merasakan tekanan,mungkin
karena dia merasa bersalah atau tidak nyaman.[14]
Juga ada bukti
bahwa orang berusaha memulihkan ekuitas saat mereka merasakan ada ketidakadilan
dalam hubungan. Orang dapat melakukan dengan dua cara. Pertama memulihkan
ekuitas aktual. Cara kedua adalah menggunakan strategi kognitif untuk mengubah
persepsi ketidakseimbangan dan karenanya memulihkan ekuitas psikologis.
Penggunaan dua cara itu akan bergantung pada manfaat dan biaya dari
masing-masing strategi.[15]
e)
Melampaui pertukaran
Prinsip
pertukaran sosial (social exchange)
membantu kita memahami beragam jenis hubungan. Kebanyakan orang mengakui bahwa
pertukaran memengaruhi hubungan kasual, namun mereka menolak ide bahwa faktor
pertukaran juga memengaruhi hubungan paling akrab. Clark dan Mills (1979)
membedakan dua tipe hubungan yaitu hubungan pertukaran dan hubungan komunal.
Dalam kedua tipe hubungan ini, terjadi proses pertukaran, namun aturan memberi
dan menerima manfaat berbeda secara signifikan. Hubungan pertukaran sering
terjadi antar orang yang tak saling kenal atau antar kenalan biasa dalam relasi
bisnis. Dalam exchange relationship (hubungan
pertukaran) ini orang tidak punya rasa tanggung jawab spesial untuk
kesejahteraan orang lain. Sebaliknya dalam Comunal relationship (hubungan
komunal) orang merasa bertanggung jawab secara personal atas kebutuhan orang
lain, hubungan komunal biasanya terjadi antara, keluarga, sahabat dan pacar.[16]
Mills dan Clark
telah melakukan program riset untuk mengidentifikasi perbedaan antara dua
orientasi hubungan ini. Berikut beberapa temuannya:[17]
(1) Orang
lebih memperhatikan kebutuhan partnernya dalam hubungan komunal ketimbang dalam
dalam hubungan pertukaran.
(2) Orang
dalam hubungan komunal lebih memilih membicarakan topik-topik emosional.
(3) Orang
dianggap lebih altruistik jika dia menawarkan bantuan kepada kenalan biasa
(hubungan komunal yang lemah dimana bantuan itu tidak diharapkan) ketimbang
jika dia memberikan bantuan kepada sahabat dekat (hubungan komunal yang dimana
bantuan biasa diharapkan).
(4) Orang
dianggap lebih mementingkan diri sendiri jika tidak memberikan bantuan kepada
sahabat dekat ketimbang jika dia tidak memberikan bantuan kepada sahabat dekat
ketimbang jika dia tidak memberi bantuan kepada kenalan biasa.
B. Pengungkapan
Diri dan Intimasi
1. Pengungkapan
Diri
Self
–disclosure (pengungkapan diri) adalah tipe khusus
dari percakapan dimana kita berbagi informasi dan perasaan pribadi dari orang
lain. Terkadang kita mengungkapkan fakta tentang diri kita yang tersembunyi,
apa pekerjaan kita, dimana kita tinggal. Ini disebut sebagai “pengungkapan
deskripsif” karena mendiskripsikan beberapa hal tentang diri kita. Tipe
pengungkapan diri lainnya adalah pengungkapan opini pribadi dan perasaan
terdalam-perasaan kita pada orang lain, kesalahan kita, atau betapa bencinya
kita pada pekerjaan kita. Ini dinamakan “pengungkapan evaluatif” karena berisi
penilaian personal terhadap orang lain atau situasi.[18]
Berikut ini
beberapa alasan utama dari pengungkapan diri:[19] Penerimaan
sosial, Pengembangan hubungan, Ekspresi diri, Klarifikasi diri, kontrol sosial.
a)
Pengungkapan diri, rasa suka dan
resiprositas
Rasa suka adalah
penyebab penting dalam pengungkapan diri. Kita mengungkapkan. Kita mengungkap
lebih banyak kepada orang yang kita sukai dan kita percayai ketimbang kepada
orang yang kita sukai atau yang tidak kita sukai. Pengungkapan diri juga
menyebabkan rasa suka. Mengungkapkan informasi personal kepada orang lain dapat
memperkuat rasa suka kita kepada orang itu.[20]
Faktor penting
dalam hubungan rasa suka- pengungkapan diri ini adalah resiprositas.
Pengungkapan diri cenderung akan dibalas dengan pengungkapan diri. Secara umum,
kita menyukai orang yang mau berbagi pengungkapan diri.[21]
b) Bahaya
pengungkapan diri
Mengungkapkan
informasi personal akan membuat kita berada dalam kondisi rawan. Beberapa
risiko yang terjadi saat mengungkapkan diri antara lain:[22]
pengabaian, penolakan, hilangnya kontrol, pengkhianatan.
Karena adanya
risiko ini, kita terkadang menyembunyikan perasaan kita, merahasiakannya dari
orang yang kita cintai, dan melindungi hidup kita dari penyelidikan orang lain.[23]
c)
Gender dan Pengungkapan Diri
Di Amerika
Serikat stereotip menggambarkan pria sebagai “tipe pendiam” yang merahasiakan
perasaannya dan wanita sebagai “tukang cerita” yang berani berbagi rahasia.
Wanita cenderung lebih banyak mengungkapkan diri ketimbang pria.[24]
Dalam pertemanan
sesama jenis, wanita cenderung lebih terbuka kepada wanita ketimbang pria. Di
sepanjang kehidupan dewasa, dibandingkan dengan lelaki, wanita lebih cenderung
punya teman kepercayaan wanita dan lebih
mau berbagi informasi pribadi. Secara
umum, orang lebih banyak membuka diri pada pasangan romantisnya ketimbang
kepada orang lain.[25]
2.
Intimasi
Intimasi adalah
salah satu istilah umum yang sulit didefinisikan dengan tepat. Pengungkapan
diri adalah salh satu komponen intimasi. Kita mengalami hubungan yang intim
apabila kita merasa dipahami, diakui dan diperhatikan oleh rekan kita. Intimasi
tercipta ketika kita memandang orang lain sebagai responsif dan memberi
perhatian pada kita dan bereaksi dengan cara yang suportif.[26]
Orang yang
mengungkapkan diri harus merasa bahwa pendengar menerima dan memahami perasaan
atau pandangannya. Personsivitas dan kesediaan pendengar untuk balik membuka
diri adalah penting. Pada gilirannya, interaksi yang intim akan meningkatkan
perasaan saling percaya dan kedekatan emosional yang fundamental bagi
perkembangan hubungan personal.[27]
a) Gender
dan Intimasi
Pria dan wanita
cenderung mendefinisikan keintiman secara berbeda. Berdasarkan studi AS,
jawabnya tampaknya “tidak.” Dalam sebuah studi, suami dan istri ditanya, “apa
makna intimasi bagi anda?” keduanya menekankan perasaan personal dan kasih
sayang, dalam studi lainnya, partisipan memberi penjelasan detail tentang dua
pengalaman intim yang baru dialami dan dua pengalaman intim di masa lalu. Pria
dan wanita itu tidak berbeda dalam mengevaluasi percakapan tersebut, dan temuan
ini menunjukkan bahwa mereka menggunakan standar yang sama untuk menilai level
intimasi. Demikian pula, Burleson (2003) menunjukkan bahwa wanita sama-sama
menekankan pentingnya dukungan emosional dalam hubungan yang erat.[28]
Penjelasan pola
intimasi tidak sepenuhnya jelas. Penjelasan sosiokultural mungkin menunjukkan
bahwa wanita lebih mengutamakan perasaan (emosi) dalam menjalin hubungan
pertemanan dan karenanya lebih mementingkan intimasi dan lebih ahli dalam
domain ini. Sebaliknya, pria mungkin telah diajari untuk membatasi pengungkapan
diri dan ekspresi emosinya. Khususnya saat berinteraksi dengan sesama pria.[29]
C. Keseimbangan
kekuasaan dan Konflik
1. Keseimbangan
kekuasaan
Social power
(kekuasaan sosial) berarti kemampuan seseorang untuk memengaruhi perilaku,
pikiran atau perasaan orang lain. Dalam beberapa kertidakseimbangan kekuatan,
satu orang lebih banyak mengambil keputusan, lebih kuat dalam mengendalikan
aktivitas bersama, lebih kuat argumennya, dan secara umum lebih berkuasa.[30]
a) Menilai
keseimbangan kekuasaan
Kebanyakan
pasangan heteroseksual di AS mendeskripsikan hubungan romantisnya sebagai
hubungan dengan kekuasaan yang berimbang. Akan tetapi, beberapa pasangan
melaporkan pria lebih dominan atau yang lebih jarang, wanita yang dominan.
Tetapi ketika hubungan itu tak seimbang, biasanya lelakilah yang lebih
berkuasa.[31]
b)
Pergeseran keseimbangan kekuasaan
Ada tiga faktor
yang menentukan bahwa suatu hubungan adalah berimbang dalam hal kekuasaan
yaitu;[32]
(1) Sikap
dan norma sosial. Pola kekuasaan dalm suatu hubungan sering ditentukan oleh
norma sosial.
(2) Sumber
daya relatif. Sumber daya adalah segala sesuatu yang “dapat dipakai untuk
memuaskan atau mengurangi kebutuhan atau membantu atau menghambat orang untuk
mendekati tujuannya” ketika sumber daya partner tidak berimbang, orang yang
memiliki lebih banyak sumber daya akan lebih besar kekuasaannya.
(3) Prinsip
kepentingan terendah. Partner yang paling sedikit kepentingannya dalam suatu
hubungan akan memiliki kekuasaan lebih besar.
Hubungan yang didasarkan pada ketergantungan satu
pihak biasanya tidak memuaskan bagi keuda belah pihak. Hubungan ini cenderung
ke arah keseimbangan kekuasaan atau menjadi putus berantakan.[33]
2. Konflik
Konflik adalah
proses yang terjadi ketika tindakan satu orang menggangu orang lain. Potensi
konflik meningkat bila dua orang menjadi saling interdependen. Saat interaksi
lebih sering terjadi dan mencakup lebih banyak aktivitas dan isu, ada lebih
banyak peluang terjadinya perbedaan pendapat.[34]
Konflik biasanya
sedikit pada masa pacaran awal,namun cenderung meningkat dalam hubungan pacaran
yang lebih serius. Rata-rata, pasangan yang menikah mengalami satu atau dua
kalii perselisihan setiap bulannya. Masa transisi seperti saat kelahiran anak
pertama,hilangnya pekerjaan, atau sakit serius biasanya akan menaikkan
terjadinya konflik.[35]
Problem konflik dapat dikelompokkan
menjadi tiga kategori umum:
1) Perilaku
spesifik. Perilaku khusus dari pasangan yang membuat kita kecewa.
2) Norma
dan peran. Konflik jenis itu mungkin muncul akibat adanya janji yang tidak di
tepati, kurangnya perhatian, atau yang
lain.
3) Disposisi
personal. Beberapa konflik berfokus pada motif dan personalitas seseorang.
Tipe-tipe
konflik itu merefleksikan fakta bahwa orang adalah interdependen pada tiga
level. Pada level behavioral, partner mengalami problem pengoordinasian
aktivitas tertentu. Pada level normatif, mereka mengalami problem dalam
menegosiasikan aturan dan peran dalam hubungan mereka. Pada level
disposisional, mereka mungkin berselisih soal personalitas dan niat mereka.
Konflik dapat membesar apabila satu pihak menggunakan perilaku spesifik sebagai
dasar untuk menilai atribut umum dari pihak lain.[36]
D. Kepuasan
dan Komitmen
1.
Kepuasan
Menurut teori
interdependensi, kita akan puas jika hubungan kita menguntungkan, jika manfaatnya
lebih besar ketimbang biaya atau kerugiannya. Biaya atau kerugian adalah
kejadian yang kita anggap tak menyenangkan, seperti ketika penampilan kita
dikecam atau kita dipermalukan didepan umum.[37]
Menurut teori
interdependensi, kepuasan hubungan juga dipengaruhi oleh level perbandingan
umum kita. Kita puas jika suatu hubungan sesuai dengan harapan dan kebutuhan
kita. Salah satu cara untuk merasa lebih baik adalah dengan mengatakan kepada
diri kita sendiri bahwa keadaan orang lain lebih buruk ketimbang kita.[38]
Persepsi
keadilan juga memengaruhi kepuasan. Bahkan jika suatu hubungan memberi banyak
manfaat, mungkin kita tak puas jika kita yakin bahwa diri kita diperlakukan
secara tak adil. Dalam persahabatan dan cinta, hubungan yang berat sebelah,
dimana seseorang mendapat lebih banyak ketimbang orang lainnya, biasanya tidak
memuaskan.[39]
2.
Komitmen
Comitment
in a relationship (komitmen dalam suatu hubungan) berarti
semua kekuatan, positif dan negatif, yang menjaga individu tetap berada dalam
suatu hubungan ada tiga faktor utama yang memengaruhi komitmen pada suatu
hubungan.[40]
Pertama,
komitmen dipengaruhi oleh kekuatan daya tarik pada partner atau hubungan
tertentu. Dengan kata lain, komitmen akan lebih kuat jika kepuasannya tinggi.
Komponen dinamakan “komitmen personal” karena ia merujuk pada keinginan
individu untuk mempertahankan atau meningkatkan hubungan. Kedua, komitmen dipengaruhi
oleh nilai dan prinsip moral kita- perasaan bahwa kita seharusnya tetap berada
dalam suatu hubungan “komitmen moral” ini didasarkan pada perasaan kewajiban,
kewajiban agama, atau tanggung jawab sosial. Ketiga, komitmen didasarkan pada
kekuatan negatif atau penghalang yang menyebabkan seseorang akan rugi besar
jika meninggalkan hubungan. Faktor yang dapat menahan kita untuk tetap dalam
hubungan antara lain adalah tidak adanya
alternatif hubungan dan investasi yang telah kita tanamkan dalam suatu hubungan.[41]
Ketersediaan
alternatif. Level perbandingan alternatif akan memengaruhi komitmen kita.
Ketika kita bergantung pada hubungan untuk mendapatkan hal-hal yang kita hargai
dan tidak bisa mendapatkan hal itu di tempat lain, maka kita sulit untuk meninggalkan
hubungan. Kurangnya alternatif yang lebih akan meningkatkan komitmen.[42]
Investasi.
Komitmen juga dipengaruhi oleh investasi yang kita tanamkan dalam membentuk
hubungan. Investasi itu antara lain adalah waktu, energi, uang, keterlibatan
emosional, pengalaman kebersamaan dan pengorbanan untuk partner.[43]
a) Asosiasi
antara Kepuasan dan Komitmen
Ketika orang
menemukan manfaat khusus dari hubungan asmaranya, mereka akan membangun
komitmen. Namun, kepuasaan dan komitmen tak selalu berhubungan erat. Beberapa
pasangan yang tak bahagia mampu meningkatkan kualitas hubungannya dan pasangan
lainnya mungkin menghentikan hubungannya, dan bahkan ada yang mampu
mempertahankan hubungan seumur hidup meski hubungan itu kurang memuaskan.[44]
b) Kepuasan
dan komitmen dalam hubungan Lesbian dan Gay
Beberapa study
membandingkan sampel pasangan gay, lesbian, dan heteroseksual, menggunakan
ukuran standart cinta, kepuasan, dan penyesuaian. Tidak ada perbedaan
signifikan dalam ukuran kualitas hubungan. Lesbian dan gay tidak lebih besar kemungkinannya
untuk memiliki hubungan yang membahagiakan.[45]
Faktor yang
diidentifikasikan oleh teori interdependensi cukup berguna untuk memahami
pasangan sesama jenis. Komitmen akan tinggi jika partner merasa hubungannya
memberi banyak daya tarik positif, apabila mereka telah banyak berinvestasi
dalm hubungan itu dan merasa tidak banyak alternatif tersedia.
E. Pemeliharaan
Hubungan dan Respon terhadap ketidakpuasan
1.
Pemeliharaan Hubungan
Semua hubungan
akan mengalami masalah dan kadang mengecewakan. Cara kita merespon kekecewaan
akan menjadi sebab sekaligus akibat dari kepuasan dan komitmen kita. Ada bukti
bahwa partner yang bahagia dan berkomitmen saling memperlakukan pasangannya
dengan cara yang berbeda dengan partner yang tak berbahagia. Periset mulai
mengungkap bagaimana dan perilaku memengaruhi hubungan.[46]
a) Ilusi
Positif tentang Hubungan
Setiap orang yang berada dalam hubungan yang
memuaskan dan berkomitmen, cenderung mengidealisasikan partnernya dan memandang
hubungan mereka lebih unggul ketimbnag hubungan pasangan lainnya. Anggota dari
pasangan yang bahagia cenderung menekankan kebaikan pasangannya dan tidak
terlalu peduli pada kelemahan masing-masing. Memandang pacar sepositif mungkin
dapat menambah kepuasan hubungan dan memperkuat kepercayaan kita bahwa kita
telah menemukan pasangan yang “tepat.”[47]
b)
Bias Memori masa lalu
Cara lain untuk
mempertahankan keyakinan pada hubungan adalah menganggap bahwa hubungan mereka
terus berjalan ke arah cinta dan intimasi. Pada dasarnya, orang mungkin merasa
bahwa jika hubungan mereka tak sempurna, hubungan itu akan terus membaik dari
waktu ke waktu.[48]
c)
Godaan Partner Alternatif
Salah satu
ancaman potensial terhadap suatu hubungan adalah adanya alternatif pasangan
yang menarik. Salah satu tujuan komitmen dan perkawinan adalah mengumumkan
bahwa seseorang telah terikat dengan satu pasangan.[49]
d)
Menjelaskan perilaku partner
Ketika partner
melakukan sesuatu yang menjengkelkan atau mengecewakan kita memotivasi untuk
mencari tahu apa alasan dari tindakannya itu. dalam istilah tehnik kita membuat
atribusi tentang penyebab perilaku pasangan kita. Pasangan bahagia cenderung
membuat “atribut yang memperkaya hubungan”; yakni, mereka menginterpretasikan
perilaku partnernya dari sudut pandang positif.[50]
e)
Kesediaan untuk Berkorban
Semakin seseorang
berkomitmen pada hubungan. Semakin besar kemungkinan dia bersedia berkorban.
semakin mungkin mereka mengorbankan kepentingan pribadinya demi hubungan
mereka.[51]
f)
Bersabar; Akomodasi dan Maaf
Istilah teknis
“akomodasi” berarti kesediaan untuk menahan diri dan memberi respons yang lebih
konstruktif saat pasangan melakukan perilaku yang buruk. Riset menunjukkan
bahwa kemampuan untuk menahan diri dari marah-marah merupakan faktor penting
dalam menjaga kualitas hubungan yang dekat. Pasangan yang sangat berkomitmen
pada hubungan biasanya bisa mampu menahan diri untuk tidak membalas.[52]
Belakangan ini,
psikolog sosial telah mengarahkan perhatiannya pada sifat dari pemberian maaf
dalam suatu hubungan. Ada banyak cara dimana seseorang dapat membahayakan atau
menyakiti pasangannya. Misalkan seorang istri lupa pada ulang tahun suaminya.
Riset mulai menunjukkan proses pemberian maaf dalam suatu hubungan. Individu
dalam hubungan yang bahagia dan penuh komitmen kemungkinan besar akan lebih
mudah memaafkan ketimbang individu dalam hubungan yang kurang bahagia. Ada
bukti awal yang menunjukkan bahwa pemberian maaf bisa memulihkan hubungan antar
pasangan. Memberi maaf mengurangi stres dan menyehatkan fisik.[53]
2.
Respons terhadap ketidakpuasan: Suara,
Loyalitas, Pengabaian, dan Keluar
Rusbult mengidentifikasi
empat reaksi utam terhadap ketidakpuasan yang disebutnya “suara”, “loyalitas”,
“pengabaian”, dan “keluar.”[54]
Suara terjadi
ketika seseorang secara aktif mendiskusikan problem, berusaha berkompromi,
mencari pertolongan, mengubah dirinya, partner, atau situasi, atau berusaha
memperbaiki hubungan. Secara fundamental, suara adalah usaha untuk
menyelamatkan hubungan yang sedang bermasalah. Suara paling sering dipakai
ketika seseorang sebelumnya sudah puas dengan hubungan dan telah banyak
berinvestasi dalam hubungan itu. dalam hubungan romantis, respons ini biasanya
datang dari pihak perempuan.
Loyalitas
berarti menunggu secara pasif tetapi optimis sampai situasi membaik. Loyalitas
adalah respons konservatif yang dimaksudkan untuk menjaga hubungan. Dalam
situasi kerja, seorang karyawan mungkin secara terang-terangan mendukung
organisasi dan melakukan tugasnya sembari berharap kondisi akan berubah.
Loyalitas
berarti menunggu secara pasif tetapi optimis sampai situasi membaik. Loyalitas
adalah respons konservatif yang dimaksudkan untuk menjaga hubungan. Dalam
situasi kerja, penagbaian bisa berupa bertambah malas atau sengaja datang telat
atau memnfaatkan waktu kerja untuk mengerjakan bisnis lain.
Keluar berarti
secara aktif mengakhiri hubungan. Dalam situasi kerja, tindakan keluar bisa
berupa mencari pekerjaan lain, pindah kerja, atau mengundurkan diri. Dalam
hubungan romantis, keluar bisa berupa menjauhi pasangan. Orang cenderung
mengakhiri hubungan personal apabila mereka merasa tidak mengalami banyak kerugian
jika hubungan berakhir.
Untuk
memepertahankan hubungan, respons loyalitas dan suara adalah lebih konstruktif
dan dapat memperbaiki hubungan, pengabaian dan keluar lebih destruktif.[55]
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hubungan
personal atau hubungan interpersonal adalah kegiatan berkomunikasi yang
dilakukan oleh individu satu dengan yang lainnya, dimana dalam berkomunikasi
individu tidak hanya menyampaikan isi tetapi juga menentukan suatu hubungan
yang terjadi antar diri individu. Didalam hubungan personal terdapat sebuah
teori yang dikenal dengan teori interdependensi. Teori interdependensi adalah
istilah yang digunakan untuk menganalisis interaksi antar partner khususnya
dalam hal manfaat dan biaya. Dalam teori ini, orang akan selalu melihat dari
segi penguatan yang diperoleh yaitu melihat dari untung dan rugi.
Didalam sebuah
interaksi ada kegiatan yang biasa disebut dengan pengungkapan diri (percakapan
yang mana kita berbagi informasi dan perasaan mengenai diri sendiri) dipahami,
diperhatikan, dan diakui. Tidak hanya itu, didalam sebuah hubungan juga
terdapat istilah kekuasaan dan konflik. Seseorang memiliki sosial power
(kekuasaan sosial) yang kuat maka orang tersebut bisa mempengaruhi perilaku,
pikiran dan perasaan orang lain, sedangkan yang dimaksud konflik dalam hubungan
adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh individu kepada orang lain yang
menimbulkan pertentangan sehingga orang lain terganggu.
Kepuasan dan
komitmen pada suatu hubungan menurut teori interdependensi kepuasan itu
diperoleh karena hubungan yang terjalin menguntungkan, yakni jika manfaat yang
diperoleh lebih besar ketimbang biaya atau kerugiannya. Komitmen (kesepakatan)
adalah kekuatan positif dan negatif yang mampu menjaga individu dalam sebuah hubungan,
komitmen akan terjalin dengan kuat/kokoh jika didalam hubungan terdapat tidak
adanya hubungan alternatif yakni jika individu tidak memiliki alternatif maka
komitmen akan meningkat.
Dalam menjaga
hubungan yang baik Rusbult mengidentifikasi empat reaksi utama terhadap
ketidakpuasan yang disebutnya suara (usaha untuk menyelamatkan hubungan yang
sedang bermasalah), loyalitas (menunggu secara pasif tetapi optimis sampai
situasi membaik), pengabaian (pembiaran situasi terus memburuk), keluar
(berarti mengakhiri hubungan).
DAFTAR
PUSTAKA
Taylor Shelley E. Psikologi Sosial. 2009. Jakarta: Prenada Media Group
Walgito Bimo. Teori-Teori Psikologi Sosial. 2011.
Yogyakarta: CV.Andi
[2] Psikologi
Sosial, Shelley E. Taylor dkk, Jakarta, hlm.325-326
[3] Teori-teori
Psikologi Sosial, Bimo Walgito, Yogyakarta, hlm.40
[4] Ibid hlm.40
[5] Psikologi
Sosial, Shelley E. Taylor dkk, Jakarta, hlm.326
[6] Ibid, hlm. 326
[7]
Teori-teori
Psikologi Sosial, Bimo Walgito, Yogyakarta, hlm.46
[8]
Psikologi
Sosial, Shelley E. Taylor dkk, Jakarta, hlm.327
[9]
Ibid,
hlm.327
[10] Ibid, hlm.328
[11] Ibid hlm,330
[12] Ibid hlm.330
[13] Ibid hlm, 330
[14] Ibid, hlm 331
[15] Ibid hlm. 331
[16] Ibid hlm. 332
[17] Ibid hlm. 333
[18] Ibid hlm.334
[19] Ibid hlm.334
[20] Ibid hlm.335
[21] Ibid hlm.335
[22] Ibid hlm.336
[23] Ibid hlm.337
[24] Ibid hlm.338
[25] Ibid hlm.338
[26] Ibid hlm.340
[27] Ibid hlm,341
[28] Ibid hlm,342
[29] Ibid hlm,342
[30] Ibid hlm,342
[31] Ibid hlm,343
[32] Ibid hlm,345
[33] Ibid hlm,346
[34] Ibid hlm,346
[35] Ibid hlm,347
[36] Ibid hlm,347
[37] Ibid hlm,349
[38] Ibid hlm,350
[39] Ibid hlm,350
[40] Ibid hlm,350
[41] Ibid hlm,351
[42] Ibid hlm,351
[43] Ibid hlm,351
[44] Ibid hlm,352
[45] Ibid hlm,353
[46] Ibid hlm,354
[47] Ibid hlm,364
[48] Ibid hlm,355
[49] Ibid hlm,356
[50] Ibid hlm,356
[51] Ibid hlm,358
[52] Ibid hlm, 359
[53] Ibid hlm, 360
[54] Ibid hlm, 360
[55] Ibid hlm, 361