Rabu, 09 November 2016

Overload Love

http://adf.ly/1fVqGX

Seorang yeoja yang Periang, pemeriah, pelengkap, penghibur, pemersatu, tapii ceroboh dan pemalas -_- harus bertemu dengan berbagai karakter namja. Bukankah ini yang diinginkan si yeoja ini? tidak! Bukan seperti ini, “aku tidak bermaksud seperti itu.”
Menghindari sang mantan dan ngefly ke negara gingseng menemui sepupu tercinta. Tapi entah sepupu yang bernama V ini mencintai si yeoja sebagai sepupu atau memandangnya sebagai seorang wanita! Penasaran? Aku juga, intip kisahnya yukzz.

Kamis, 04 Juni 2015



BAB I
Pendahuluan

A.    Latar belakang
Dalam ilmu psikologi sosial menjelaskan tentang hubungan personal atau biasa disebut hubungan interpersonal, dimana saat seseorang berkomunikasi maka mereka tidak hanya menyampaikan isi tetapi juga menentukan kekuatan hubungan yang terjadi antar diri seseorang. Jadi makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya; makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya; sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung diantara komunikan. Dalam salah satu model di hubungan interpersonal, orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya. Thibault dan Kelley, dua orang pemuka dari teori ini menyimpulkan model pertukaran sosial sebagai berikut:
Asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya”.
            Dalam makalah ini, akan membahas lebih lengkap mengenai hubungan personal, seperti teori yang dipakai dalam hubungan personal, dinamika pengungkapan diri dan intimasi,  membahas sifat dari kekuasaan dan konflik dalam hubungan, faktor-faktor yang berkontribusi pada kepuasan dan komitmen pada hubungan. Dan memaparkan cara orang untuk menjaga hubungan yang baik.

B.    Rumusan masalah
1.     Bagaimana pengertian hubungan personal dan teori dalam hubungan personal?
2.     Bagaimana dinamika pengungkapan diri dan intimasi?
3.     Bagaimana sifat dari kekuasaan dan konflik dalam hubungan?
4.     Apa saja faktor-faktor yang berkontribusi pada kepuasan dan komitmen pada hubungan?
5.     Bagaimana cara orang dalam  menjaga hubungan yang baik?




C.    Tujuan
1.     Untuk mengetahui hubungan personal dan teori dalam hubungan personal
2.     Untuk mengetahui dinamika pengungkapan diri dan intimasi
3.     Untuk mengetahui sifat dari kekuasaan dan konflik dalam hubungan
4.     Untuk mengetahui faktor-faktor yang berkontribusi pada kepuasan dan komitmen pada kepuasan dan komitmen pada hubungan
5.     Untuk mengetahui cara seseorang menjaga hubungan yang baik.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian hubungan personal dan Teori Interdependensi
1.     Pengertian hubungan personal
Hubungan personal atau hubungan interpersonal adalah komunikasi yang terjadi pada satu individu dengan individu lain, dengan menentukan kadar atau kekuatan hubungan yang terjadi diantara komunikan. Dari segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya; makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya; sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung diantara komunikan.[1]
2.     Teori interdependensi
Peneliti Hubungan sosial dalam Psikologi sosial,sering menggunakan Interdependence Theory. Pandangan ini sering menganalisis interaksi antar partner, istilah dalam interaksi ini adalah manfaat dan biaya atau biasa disebut yang diberikan atau diterima partner. Kita biasanya mengatur interaksi untuk memaksimalkan manfaat dan meminimalkan biaya atau kerugian dipihak kita. Tetapi untuk mendapatkan manfaat ini kita juga harus memberi manfaat kepada orang lain. Interaksi sosial melibatkan pertukaran dan koordinasi hasil antara partner yang saling bergantung.[2]
Teori interdependensi merupakan salah satu teori dari teori pertukaran-pertukaran sosial (social reinforcement- exchange theory) yang merupakan salah satu teori yang berorientasi pada teori penguatan (reinforcement). Teori interdependensi dikemukakan oleh thibout dan kelley. Dengan istilah interdependensi maka dalam interaksi ini satu dengan yang lain saling bergantung dan saling tukar.[3]
Dalam teori ini, orang yang berinteraksi akan selalu melihat dari segi penguatan, selalu dilihat dari untung rugi. Kalau hadiah lebih besar dari pada biaya (cost), interaksi akan menyenangkan demikian pula sebaliknya.[4]
a)   Manfaat dan Biaya
Manfaat atau perolehan/imbalan reward adalah segala sesuatu yang positif yang kita peroleh dari interaksi, seperti perasaan dicintai atau mendapat bantuan finansial. Analisis manfaat dari interaksi sosial yang cukup membantu kita adalah analisis yang dikemukakan oleh Foa dan Foa yang mengidentifikasikan enam tipe perolehan utama, yaitu cinta, uang, status, informasi, barang dan jasa. Ini dapat diklasifikasikan menjadi dua dimensi. Dimensi partikularisme berkaitan dengan sejauh mana nilai perolehan bergantung pada orang yang memberikannya. Nilai cinta atau nilai pelukan dan kata-kata yang lembut akan bergantung pada siapa yang memberikannya. Dimensi kedua kekonkritan adalah imbalan yang nyata yang dapat kita lihat, cium, dan sentuh dan nonkonkrit atau simbolis seperti nasehat atau persetujuan sosial.[5]
Biaya atau kerugian adalah konsekuensi dari interaksi atau hubungan. Sebuah interaksi mungkin juga merugikan jika membuat kita kehilangan kesempatan untuk melakukan aktifitas yang lebih menguntungkan.[6]
            Faktor-faktor yang berpengaruh pada hadiah dan biaya ada 2, yaitu:[7]
(1)  Faktor eksternal yang mempengaruhi kemampuan (ability, kesamaan (similary ), kedekatan (proximity), dan pelengkap (complementary).
(2)  Faktor internal atau endogen merupakan faktor ynag timbul selama dan hasil dari proses interaksi. Dalam keadaan optimal, faktor endogen memungkinkan hasil positif yang maksimal untuk partisipan dalam interaksi.
b)  Mengevaluasi Hasil
Teori interdependensi memperkirakan bahwa orang selalu meneliti manfaat dan biaya dari interaksi atau hubungan tertentu. Disini akan fokus pada hasil keseluruhan yang di peroleh dari suatu hubungan, apakah hubungan itu menguntungkan bagi kita (manfaat lebih besar dari pada biaya) ataukah merugikan (biaya lebih besar dari pada manfaat).[8]
Selain menentukan apakah hubungan itu menguntungkan, kita juga menggunakan penilaian komperatif,menilai bagaimana satu hubungan dengan hubungan lain. Ada dua standar yang sangat penting. Standar pertama adalah comparison level (level perbandingan). Perbandingan ini mencerminkan kualitas hasil yang menurut seseorang pantas untuk diterima. Dalam level perbandingan kita merefleksikan pengalaman masalalu dalam suatu hubungan. Standar kedua adalah comparison lever for altrenatives (level perbandingan untuk alternatif) yakni menilai bagaimana satu hubungan dibandingkan dengan hubungan lain yang saat ini kita jalani.[9]
c)   Mengoordinasikan hasil
Seberapa mudah atau sulitkah dua orang mengoordinasikan hasil akan tergantung pada seberapa banyak kesamaan minat dan tujuan mereka. Ketika partner menyukai banyak hal yang serupa dan menyukai aktifitas yang sama, mereka akan relatif mudah mengatasi problem koordinasi. Dalam kasus ini, mereka dikatakan memiliki “hasil yang berkoresponden” karena hasilnya berhubungan satu sama lain. Ketika partner memiliki preferensi dan nilai yang berbeda, mereka akan mendapatkan “hasil yang tidak berkorespondensi” dan akibatnya cenderung terjadi konflik kepentingan dan timbul problem koordinasi.[10]
d)  Pertukaran yang adil
Seseorang akan merasa puas jika relasi sosial mereka cukup adil. Kita menggunakan berbagai aturan untuk menentukan apakah manfaat dan kerugian dalam suatu hubungan itu cukup berimbang atau tidak. Ambil contoh, dua bocah lelaki yang sedang berusaha memutuskan cara membagi pizza. Mereka mungkin ingin “membaginya secara sama” dengan menggunakan “kaidah kesamaan” yakni setiap orang mendapatkan proporsi yang sama. Orang cenderung menggunakan prinsip ekualitas ini saat mereka berinteraksi dengan kawannya ketimbang ketika berinteraksi dengan orang asing. Anak lebih cenderung menggunakan prinsip ini dibadingkan dengan orang dewasa, mungkin karena prinsip itu cukup sederhana.[11]
Prinsip untuk pertukaran manfaat dalam suatu hubungan adalah prinsip mempertimbangkan kebutuhan semua orang yang terlibat dalam hubungan itu. Pasangan yang sudah menikah mengadopsi prinsip “kebutuhan relatif”, memandang prinsip ini sebagai prinsip yang ideal untuk hubungan mereka, karena percaya bahwa, “manfaat harus di berikan sesuai dengan kebutuhan, saat ada kebutuhan tanpa berlebihan.”[12]
Dalam Teori ekuitas, dimana manfaat yang diterima seseorang harus sebanding dengan kontribusinya, memiliki empat asumsi dasar:[13]
(1)  Dalam satu relasi atau kelompok, individu akan berusaha memaksimalkan perolehannya.
(2)  Pasangan dan kelompok dapat memaksimalkan manfaat kolektifnya dengan menggunakan aturan atau norma tentang cara membagi manfaat secara adil untuk semua pihak.
(3)  Ketika individu merasa bahwa suatu hubungan tidak seimbang, mereka akan tertekan.
(4)  Individu yang merasakan adanya ketidak seimbangan dalam hubungan akan berusaha memulihkannya.
Riset telah mendukung beberapa prediksi dari teori ekuitas. Ketika hubungan terasa tak imbang, kedua belah pihak akan merasa tertekan atau sedih. Tidak heran jika orang yang dirugikan akan merasa jengkel. Namun, riset menunjukkan bahwa orang yang terlalu banyak mengambil keuntungan juga akan merasakan tekanan,mungkin karena dia merasa bersalah atau tidak nyaman.[14]
Juga ada bukti bahwa orang berusaha memulihkan ekuitas saat mereka merasakan ada ketidakadilan dalam hubungan. Orang dapat melakukan dengan dua cara. Pertama memulihkan ekuitas aktual. Cara kedua adalah menggunakan strategi kognitif untuk mengubah persepsi ketidakseimbangan dan karenanya memulihkan ekuitas psikologis. Penggunaan dua cara itu akan bergantung pada manfaat dan biaya dari masing-masing strategi.[15]
e)   Melampaui pertukaran
Prinsip pertukaran sosial (social exchange) membantu kita memahami beragam jenis hubungan. Kebanyakan orang mengakui bahwa pertukaran memengaruhi hubungan kasual, namun mereka menolak ide bahwa faktor pertukaran juga memengaruhi hubungan paling akrab. Clark dan Mills (1979) membedakan dua tipe hubungan yaitu hubungan pertukaran dan hubungan komunal. Dalam kedua tipe hubungan ini, terjadi proses pertukaran, namun aturan memberi dan menerima manfaat berbeda secara signifikan. Hubungan pertukaran sering terjadi antar orang yang tak saling kenal atau antar kenalan biasa dalam relasi bisnis. Dalam exchange relationship (hubungan pertukaran) ini orang tidak punya rasa tanggung jawab spesial untuk kesejahteraan orang lain. Sebaliknya dalam Comunal relationship (hubungan komunal) orang merasa bertanggung jawab secara personal atas kebutuhan orang lain, hubungan komunal biasanya terjadi antara, keluarga, sahabat dan pacar.[16]
Mills dan Clark telah melakukan program riset untuk mengidentifikasi perbedaan antara dua orientasi hubungan ini. Berikut beberapa temuannya:[17]
(1)  Orang lebih memperhatikan kebutuhan partnernya dalam hubungan komunal ketimbang dalam dalam hubungan pertukaran.
(2)  Orang dalam hubungan komunal lebih memilih membicarakan topik-topik emosional.
(3)  Orang dianggap lebih altruistik jika dia menawarkan bantuan kepada kenalan biasa (hubungan komunal yang lemah dimana bantuan itu tidak diharapkan) ketimbang jika dia memberikan bantuan kepada sahabat dekat (hubungan komunal yang dimana bantuan biasa diharapkan).
(4)  Orang dianggap lebih mementingkan diri sendiri jika tidak memberikan bantuan kepada sahabat dekat ketimbang jika dia tidak memberikan bantuan kepada sahabat dekat ketimbang jika dia tidak memberi bantuan kepada kenalan biasa.

B.    Pengungkapan Diri dan Intimasi
1.     Pengungkapan Diri
Self –disclosure (pengungkapan diri) adalah tipe khusus dari percakapan dimana kita berbagi informasi dan perasaan pribadi dari orang lain. Terkadang kita mengungkapkan fakta tentang diri kita yang tersembunyi, apa pekerjaan kita, dimana kita tinggal. Ini disebut sebagai “pengungkapan deskripsif” karena mendiskripsikan beberapa hal tentang diri kita. Tipe pengungkapan diri lainnya adalah pengungkapan opini pribadi dan perasaan terdalam-perasaan kita pada orang lain, kesalahan kita, atau betapa bencinya kita pada pekerjaan kita. Ini dinamakan “pengungkapan evaluatif” karena berisi penilaian personal terhadap orang lain atau situasi.[18]
Berikut ini beberapa alasan utama dari pengungkapan diri:[19] Penerimaan sosial, Pengembangan hubungan, Ekspresi diri, Klarifikasi diri, kontrol sosial.

a)     Pengungkapan diri, rasa suka dan resiprositas
Rasa suka adalah penyebab penting dalam pengungkapan diri. Kita mengungkapkan. Kita mengungkap lebih banyak kepada orang yang kita sukai dan kita percayai ketimbang kepada orang yang kita sukai atau yang tidak kita sukai. Pengungkapan diri juga menyebabkan rasa suka. Mengungkapkan informasi personal kepada orang lain dapat memperkuat rasa suka kita kepada orang itu.[20]
Faktor penting dalam hubungan rasa suka- pengungkapan diri ini adalah resiprositas. Pengungkapan diri cenderung akan dibalas dengan pengungkapan diri. Secara umum, kita menyukai orang yang mau berbagi pengungkapan diri.[21]

b)     Bahaya pengungkapan diri
Mengungkapkan informasi personal akan membuat kita berada dalam kondisi rawan. Beberapa risiko yang terjadi saat mengungkapkan diri antara lain:[22] pengabaian, penolakan, hilangnya kontrol, pengkhianatan.
Karena adanya risiko ini, kita terkadang menyembunyikan perasaan kita, merahasiakannya dari orang yang kita cintai, dan melindungi hidup kita dari penyelidikan orang lain.[23]
c)     Gender dan Pengungkapan Diri
Di Amerika Serikat stereotip menggambarkan pria sebagai “tipe pendiam” yang merahasiakan perasaannya dan wanita sebagai “tukang cerita” yang berani berbagi rahasia. Wanita cenderung lebih banyak mengungkapkan diri ketimbang pria.[24]
Dalam pertemanan sesama jenis, wanita cenderung lebih terbuka kepada wanita ketimbang pria. Di sepanjang kehidupan dewasa, dibandingkan dengan lelaki, wanita lebih cenderung punya teman kepercayaan  wanita dan lebih mau berbagi informasi  pribadi. Secara umum, orang lebih banyak membuka diri pada pasangan romantisnya ketimbang kepada orang lain.[25]
2.     Intimasi
Intimasi adalah salah satu istilah umum yang sulit didefinisikan dengan tepat. Pengungkapan diri adalah salh satu komponen intimasi. Kita mengalami hubungan yang intim apabila kita merasa dipahami, diakui dan diperhatikan oleh rekan kita. Intimasi tercipta ketika kita memandang orang lain sebagai responsif dan memberi perhatian pada kita dan bereaksi dengan cara yang suportif.[26]
Orang yang mengungkapkan diri harus merasa bahwa pendengar menerima dan memahami perasaan atau pandangannya. Personsivitas dan kesediaan pendengar untuk balik membuka diri adalah penting. Pada gilirannya, interaksi yang intim akan meningkatkan perasaan saling percaya dan kedekatan emosional yang fundamental bagi perkembangan hubungan personal.[27]
a)     Gender dan Intimasi
Pria dan wanita cenderung mendefinisikan keintiman secara berbeda. Berdasarkan studi AS, jawabnya tampaknya “tidak.” Dalam sebuah studi, suami dan istri ditanya, “apa makna intimasi bagi anda?” keduanya menekankan perasaan personal dan kasih sayang, dalam studi lainnya, partisipan memberi penjelasan detail tentang dua pengalaman intim yang baru dialami dan dua pengalaman intim di masa lalu. Pria dan wanita itu tidak berbeda dalam mengevaluasi percakapan tersebut, dan temuan ini menunjukkan bahwa mereka menggunakan standar yang sama untuk menilai level intimasi. Demikian pula, Burleson (2003) menunjukkan bahwa wanita sama-sama menekankan pentingnya dukungan emosional dalam hubungan yang erat.[28]
Penjelasan pola intimasi tidak sepenuhnya jelas. Penjelasan sosiokultural mungkin menunjukkan bahwa wanita lebih mengutamakan perasaan (emosi) dalam menjalin hubungan pertemanan dan karenanya lebih mementingkan intimasi dan lebih ahli dalam domain ini. Sebaliknya, pria mungkin telah diajari untuk membatasi pengungkapan diri dan ekspresi emosinya. Khususnya saat berinteraksi dengan sesama pria.[29]
C.    Keseimbangan kekuasaan dan Konflik

1.     Keseimbangan kekuasaan
Social power (kekuasaan sosial) berarti kemampuan seseorang untuk memengaruhi perilaku, pikiran atau perasaan orang lain. Dalam beberapa kertidakseimbangan kekuatan, satu orang lebih banyak mengambil keputusan, lebih kuat dalam mengendalikan aktivitas bersama, lebih kuat argumennya, dan secara umum lebih berkuasa.[30]

a)     Menilai keseimbangan kekuasaan
Kebanyakan pasangan heteroseksual di AS mendeskripsikan hubungan romantisnya sebagai hubungan dengan kekuasaan yang berimbang. Akan tetapi, beberapa pasangan melaporkan pria lebih dominan atau yang lebih jarang, wanita yang dominan. Tetapi ketika hubungan itu tak seimbang, biasanya lelakilah yang lebih berkuasa.[31]
b)     Pergeseran keseimbangan kekuasaan
Ada tiga faktor yang menentukan bahwa suatu hubungan adalah berimbang dalam hal kekuasaan yaitu;[32]
(1)  Sikap dan norma sosial. Pola kekuasaan dalm suatu hubungan sering ditentukan oleh norma sosial.
(2)  Sumber daya relatif. Sumber daya adalah segala sesuatu yang “dapat dipakai untuk memuaskan atau mengurangi kebutuhan atau membantu atau menghambat orang untuk mendekati tujuannya” ketika sumber daya partner tidak berimbang, orang yang memiliki lebih banyak sumber daya akan lebih besar kekuasaannya.
(3)  Prinsip kepentingan terendah. Partner yang paling sedikit kepentingannya dalam suatu hubungan akan memiliki kekuasaan lebih besar.
Hubungan yang didasarkan pada ketergantungan satu pihak biasanya tidak memuaskan bagi keuda belah pihak. Hubungan ini cenderung ke arah keseimbangan kekuasaan atau menjadi putus berantakan.[33]
2.     Konflik
Konflik adalah proses yang terjadi ketika tindakan satu orang menggangu orang lain. Potensi konflik meningkat bila dua orang menjadi saling interdependen. Saat interaksi lebih sering terjadi dan mencakup lebih banyak aktivitas dan isu, ada lebih banyak peluang terjadinya perbedaan pendapat.[34]
Konflik biasanya sedikit pada masa pacaran awal,namun cenderung meningkat dalam hubungan pacaran yang lebih serius. Rata-rata, pasangan yang menikah mengalami satu atau dua kalii perselisihan setiap bulannya. Masa transisi seperti saat kelahiran anak pertama,hilangnya pekerjaan, atau sakit serius biasanya akan menaikkan terjadinya konflik.[35]
Problem konflik dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori umum:
1)     Perilaku spesifik. Perilaku khusus dari pasangan yang membuat kita kecewa.
2)     Norma dan peran. Konflik jenis itu mungkin muncul akibat adanya janji yang tidak di tepati,  kurangnya perhatian, atau yang lain.
3)     Disposisi personal. Beberapa konflik berfokus pada motif dan personalitas seseorang.
Tipe-tipe konflik itu merefleksikan fakta bahwa orang adalah interdependen pada tiga level. Pada level behavioral, partner mengalami problem pengoordinasian aktivitas tertentu. Pada level normatif, mereka mengalami problem dalam menegosiasikan aturan dan peran dalam hubungan mereka. Pada level disposisional, mereka mungkin berselisih soal personalitas dan niat mereka. Konflik dapat membesar apabila satu pihak menggunakan perilaku spesifik sebagai dasar untuk menilai atribut umum dari pihak lain.[36]

D.    Kepuasan dan Komitmen
1.     Kepuasan
Menurut teori interdependensi, kita akan puas jika hubungan kita menguntungkan, jika manfaatnya lebih besar ketimbang biaya atau kerugiannya. Biaya atau kerugian adalah kejadian yang kita anggap tak menyenangkan, seperti ketika penampilan kita dikecam atau kita dipermalukan didepan umum.[37]
Menurut teori interdependensi, kepuasan hubungan juga dipengaruhi oleh level perbandingan umum kita. Kita puas jika suatu hubungan sesuai dengan harapan dan kebutuhan kita. Salah satu cara untuk merasa lebih baik adalah dengan mengatakan kepada diri kita sendiri bahwa keadaan orang lain lebih buruk ketimbang kita.[38]
Persepsi keadilan juga memengaruhi kepuasan. Bahkan jika suatu hubungan memberi banyak manfaat, mungkin kita tak puas jika kita yakin bahwa diri kita diperlakukan secara tak adil. Dalam persahabatan dan cinta, hubungan yang berat sebelah, dimana seseorang mendapat lebih banyak ketimbang orang lainnya, biasanya tidak memuaskan.[39]
2.     Komitmen
Comitment in a relationship (komitmen dalam suatu hubungan) berarti semua kekuatan, positif dan negatif, yang menjaga individu tetap berada dalam suatu hubungan ada tiga faktor utama yang memengaruhi komitmen pada suatu hubungan.[40]
Pertama, komitmen dipengaruhi oleh kekuatan daya tarik pada partner atau hubungan tertentu. Dengan kata lain, komitmen akan lebih kuat jika kepuasannya tinggi. Komponen dinamakan “komitmen personal” karena ia merujuk pada keinginan individu untuk mempertahankan atau meningkatkan hubungan. Kedua, komitmen dipengaruhi oleh nilai dan prinsip moral kita- perasaan bahwa kita seharusnya tetap berada dalam suatu hubungan “komitmen moral” ini didasarkan pada perasaan kewajiban, kewajiban agama, atau tanggung jawab sosial. Ketiga, komitmen didasarkan pada kekuatan negatif atau penghalang yang menyebabkan seseorang akan rugi besar jika meninggalkan hubungan. Faktor yang dapat menahan kita untuk tetap dalam hubungan antara lain  adalah tidak adanya alternatif hubungan dan investasi yang telah kita tanamkan dalam suatu hubungan.[41]
Ketersediaan alternatif. Level perbandingan alternatif akan memengaruhi komitmen kita. Ketika kita bergantung pada hubungan untuk mendapatkan hal-hal yang kita hargai dan tidak bisa mendapatkan hal itu di tempat lain, maka kita sulit untuk meninggalkan hubungan. Kurangnya alternatif yang lebih akan meningkatkan komitmen.[42]
Investasi. Komitmen juga dipengaruhi oleh investasi yang kita tanamkan dalam membentuk hubungan. Investasi itu antara lain adalah waktu, energi, uang, keterlibatan emosional, pengalaman kebersamaan dan pengorbanan untuk partner.[43]

a)     Asosiasi antara Kepuasan dan Komitmen
Ketika orang menemukan manfaat khusus dari hubungan asmaranya, mereka akan membangun komitmen. Namun, kepuasaan dan komitmen tak selalu berhubungan erat. Beberapa pasangan yang tak bahagia mampu meningkatkan kualitas hubungannya dan pasangan lainnya mungkin menghentikan hubungannya, dan bahkan ada yang mampu mempertahankan hubungan seumur hidup meski hubungan itu kurang memuaskan.[44]
b)     Kepuasan dan komitmen dalam hubungan Lesbian dan Gay
Beberapa study membandingkan sampel pasangan gay, lesbian, dan heteroseksual, menggunakan ukuran standart cinta, kepuasan, dan penyesuaian. Tidak ada perbedaan signifikan dalam ukuran kualitas hubungan. Lesbian dan gay tidak lebih besar kemungkinannya untuk memiliki hubungan yang membahagiakan.[45]
Faktor yang diidentifikasikan oleh teori interdependensi cukup berguna untuk memahami pasangan sesama jenis. Komitmen akan tinggi jika partner merasa hubungannya memberi banyak daya tarik positif, apabila mereka telah banyak berinvestasi dalm hubungan itu dan merasa tidak banyak alternatif tersedia.
E.     Pemeliharaan Hubungan dan Respon terhadap ketidakpuasan
1.     Pemeliharaan Hubungan
Semua hubungan akan mengalami masalah dan kadang mengecewakan. Cara kita merespon kekecewaan akan menjadi sebab sekaligus akibat dari kepuasan dan komitmen kita. Ada bukti bahwa partner yang bahagia dan berkomitmen saling memperlakukan pasangannya dengan cara yang berbeda dengan partner yang tak berbahagia. Periset mulai mengungkap bagaimana dan perilaku memengaruhi hubungan.[46]
a)     Ilusi Positif tentang Hubungan
Setiap orang yang berada dalam hubungan yang memuaskan dan berkomitmen, cenderung mengidealisasikan partnernya dan memandang hubungan mereka lebih unggul ketimbnag hubungan pasangan lainnya. Anggota dari pasangan yang bahagia cenderung menekankan kebaikan pasangannya dan tidak terlalu peduli pada kelemahan masing-masing. Memandang pacar sepositif mungkin dapat menambah kepuasan hubungan dan memperkuat kepercayaan kita bahwa kita telah menemukan pasangan yang “tepat.”[47]
b)     Bias Memori masa lalu
Cara lain untuk mempertahankan keyakinan pada hubungan adalah menganggap bahwa hubungan mereka terus berjalan ke arah cinta dan intimasi. Pada dasarnya, orang mungkin merasa bahwa jika hubungan mereka tak sempurna, hubungan itu akan terus membaik dari waktu ke waktu.[48]
c)     Godaan Partner Alternatif
Salah satu ancaman potensial terhadap suatu hubungan adalah adanya alternatif pasangan yang menarik. Salah satu tujuan komitmen dan perkawinan adalah mengumumkan bahwa seseorang telah terikat dengan satu pasangan.[49]
d)     Menjelaskan perilaku partner
Ketika partner melakukan sesuatu yang menjengkelkan atau mengecewakan kita memotivasi untuk mencari tahu apa alasan dari tindakannya itu. dalam istilah tehnik kita membuat atribusi tentang penyebab perilaku pasangan kita. Pasangan bahagia cenderung membuat “atribut yang memperkaya hubungan”; yakni, mereka menginterpretasikan perilaku partnernya dari sudut pandang positif.[50]
e)     Kesediaan untuk Berkorban
Semakin seseorang berkomitmen pada hubungan. Semakin besar kemungkinan dia bersedia berkorban. semakin mungkin mereka mengorbankan kepentingan pribadinya demi hubungan mereka.[51]
f)      Bersabar; Akomodasi dan Maaf
Istilah teknis “akomodasi” berarti kesediaan untuk menahan diri dan memberi respons yang lebih konstruktif saat pasangan melakukan perilaku yang buruk. Riset menunjukkan bahwa kemampuan untuk menahan diri dari marah-marah merupakan faktor penting dalam menjaga kualitas hubungan yang dekat. Pasangan yang sangat berkomitmen pada hubungan biasanya bisa mampu menahan diri untuk tidak membalas.[52]
Belakangan ini, psikolog sosial telah mengarahkan perhatiannya pada sifat dari pemberian maaf dalam suatu hubungan. Ada banyak cara dimana seseorang dapat membahayakan atau menyakiti pasangannya. Misalkan seorang istri lupa pada ulang tahun suaminya. Riset mulai menunjukkan proses pemberian maaf dalam suatu hubungan. Individu dalam hubungan yang bahagia dan penuh komitmen kemungkinan besar akan lebih mudah memaafkan ketimbang individu dalam hubungan yang kurang bahagia. Ada bukti awal yang menunjukkan bahwa pemberian maaf bisa memulihkan hubungan antar pasangan. Memberi maaf mengurangi stres dan menyehatkan fisik.[53]
2.     Respons terhadap ketidakpuasan: Suara, Loyalitas, Pengabaian, dan Keluar
Rusbult mengidentifikasi empat reaksi utam terhadap ketidakpuasan yang disebutnya “suara”, “loyalitas”, “pengabaian”, dan “keluar.”[54]
Suara terjadi ketika seseorang secara aktif mendiskusikan problem, berusaha berkompromi, mencari pertolongan, mengubah dirinya, partner, atau situasi, atau berusaha memperbaiki hubungan. Secara fundamental, suara adalah usaha untuk menyelamatkan hubungan yang sedang bermasalah. Suara paling sering dipakai ketika seseorang sebelumnya sudah puas dengan hubungan dan telah banyak berinvestasi dalam hubungan itu. dalam hubungan romantis, respons ini biasanya datang dari pihak perempuan.
Loyalitas berarti menunggu secara pasif tetapi optimis sampai situasi membaik. Loyalitas adalah respons konservatif yang dimaksudkan untuk menjaga hubungan. Dalam situasi kerja, seorang karyawan mungkin secara terang-terangan mendukung organisasi dan melakukan tugasnya sembari berharap kondisi akan berubah.
Loyalitas berarti menunggu secara pasif tetapi optimis sampai situasi membaik. Loyalitas adalah respons konservatif yang dimaksudkan untuk menjaga hubungan. Dalam situasi kerja, penagbaian bisa berupa bertambah malas atau sengaja datang telat atau memnfaatkan waktu kerja untuk mengerjakan bisnis lain.
Keluar berarti secara aktif mengakhiri hubungan. Dalam situasi kerja, tindakan keluar bisa berupa mencari pekerjaan lain, pindah kerja, atau mengundurkan diri. Dalam hubungan romantis, keluar bisa berupa menjauhi pasangan. Orang cenderung mengakhiri hubungan personal apabila mereka merasa tidak mengalami banyak kerugian jika hubungan berakhir.
Untuk memepertahankan hubungan, respons loyalitas dan suara adalah lebih konstruktif dan dapat memperbaiki hubungan, pengabaian dan keluar lebih destruktif.[55]


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Hubungan personal atau hubungan interpersonal adalah kegiatan berkomunikasi yang dilakukan oleh individu satu dengan yang lainnya, dimana dalam berkomunikasi individu tidak hanya menyampaikan isi tetapi juga menentukan suatu hubungan yang terjadi antar diri individu. Didalam hubungan personal terdapat sebuah teori yang dikenal dengan teori interdependensi. Teori interdependensi adalah istilah yang digunakan untuk menganalisis interaksi antar partner khususnya dalam hal manfaat dan biaya. Dalam teori ini, orang akan selalu melihat dari segi penguatan yang diperoleh yaitu melihat dari untung dan rugi.
Didalam sebuah interaksi ada kegiatan yang biasa disebut dengan pengungkapan diri (percakapan yang mana kita berbagi informasi dan perasaan mengenai diri sendiri) dipahami, diperhatikan, dan diakui. Tidak hanya itu, didalam sebuah hubungan juga terdapat istilah kekuasaan dan konflik. Seseorang memiliki sosial power (kekuasaan sosial) yang kuat maka orang tersebut bisa mempengaruhi perilaku, pikiran dan perasaan orang lain, sedangkan yang dimaksud konflik dalam hubungan adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh individu kepada orang lain yang menimbulkan pertentangan sehingga orang lain terganggu.
Kepuasan dan komitmen pada suatu hubungan menurut teori interdependensi kepuasan itu diperoleh karena hubungan yang terjalin menguntungkan, yakni jika manfaat yang diperoleh lebih besar ketimbang biaya atau kerugiannya. Komitmen (kesepakatan) adalah kekuatan positif dan negatif yang mampu menjaga individu dalam sebuah hubungan, komitmen akan terjalin dengan kuat/kokoh jika didalam hubungan terdapat tidak adanya hubungan alternatif yakni jika individu tidak memiliki alternatif maka komitmen akan meningkat.
Dalam menjaga hubungan yang baik Rusbult mengidentifikasi empat reaksi utama terhadap ketidakpuasan yang disebutnya suara (usaha untuk menyelamatkan hubungan yang sedang bermasalah), loyalitas (menunggu secara pasif tetapi optimis sampai situasi membaik), pengabaian (pembiaran situasi terus memburuk), keluar (berarti mengakhiri hubungan).
DAFTAR PUSTAKA
Taylor Shelley E. Psikologi Sosial. 2009. Jakarta: Prenada Media Group
Walgito Bimo. Teori-Teori Psikologi Sosial. 2011. Yogyakarta: CV.Andi




[2] Psikologi Sosial, Shelley E. Taylor dkk, Jakarta, hlm.325-326
[3] Teori-teori Psikologi Sosial, Bimo Walgito, Yogyakarta, hlm.40
[4] Ibid hlm.40
[5] Psikologi Sosial, Shelley E. Taylor dkk, Jakarta, hlm.326
[6] Ibid, hlm. 326
[7] Teori-teori Psikologi Sosial, Bimo Walgito, Yogyakarta, hlm.46
[8] Psikologi Sosial, Shelley E. Taylor dkk, Jakarta, hlm.327
[9] Ibid, hlm.327
[10] Ibid, hlm.328
[11] Ibid hlm,330
[12] Ibid hlm.330
[13] Ibid hlm, 330
[14] Ibid, hlm 331
[15] Ibid hlm. 331
[16] Ibid hlm. 332
[17] Ibid hlm. 333
[18] Ibid hlm.334
[19] Ibid hlm.334
[20] Ibid hlm.335
[21] Ibid hlm.335
[22] Ibid hlm.336
[23] Ibid hlm.337
[24] Ibid hlm.338                                                
[25] Ibid hlm.338
[26] Ibid hlm.340
[27] Ibid hlm,341
[28] Ibid hlm,342
[29] Ibid hlm,342
[30] Ibid hlm,342
[31] Ibid hlm,343
[32] Ibid hlm,345
[33] Ibid hlm,346
[34] Ibid hlm,346
[35] Ibid hlm,347
[36] Ibid hlm,347
[37] Ibid hlm,349
[38] Ibid hlm,350
[39] Ibid hlm,350
[40] Ibid hlm,350
[41] Ibid hlm,351
[42] Ibid hlm,351
[43] Ibid hlm,351
[44] Ibid hlm,352
[45] Ibid hlm,353
[46] Ibid hlm,354
[47] Ibid hlm,364
[48] Ibid hlm,355
[49] Ibid hlm,356
[50] Ibid hlm,356
[51] Ibid hlm,358
[52] Ibid hlm, 359
[53] Ibid hlm, 360
[54] Ibid hlm, 360
[55] Ibid hlm, 361